CEO PERLU TEKNOLOGI STRATEGIS
[fusion_builder_container hundred_percent=”no” equal_height_columns=”no” menu_anchor=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” background_color=”” background_image=”” background_position=”center center” background_repeat=”no-repeat” fade=”no” background_parallax=”none” parallax_speed=”0.3″ video_mp4=”” video_webm=”” video_ogv=”” video_url=”” video_aspect_ratio=”16:9″ video_loop=”yes” video_mute=”yes” overlay_color=”” video_preview_image=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” padding_top=”” padding_bottom=”” padding_left=”” padding_right=””][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ layout=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” border_position=”all” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding_top=”” padding_right=”” padding_bottom=”” padding_left=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” center_content=”no” last=”no” min_height=”” hover_type=”none” link=””][fusion_title hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” content_align=”left” size=”1″ font_size=”” line_height=”” letter_spacing=”” margin_top=”” margin_bottom=”” text_color=”” style_type=”default” sep_color=””]
CEO PERLU TEKNOLOGI STRATEGIS
[/fusion_title][fusion_text columns=”” column_min_width=”” column_spacing=”” rule_style=”default” rule_size=”” rule_color=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=””]
Tata kelola data, budaya perusahaan, hingga keterampilan digital tenaga kerja menajdi faktor krusial mencapai transformasidigital yang menyeluruh.
Tahun 2019 diawali dengan optimisme terhadap prospek sosial dan ekonomi masyarakat, seperti kemunculan inisiatif teknologi yang menjadi penggerak Revolusi Indsutri 4.0. Artificial intelligence (AI), mixed reality (MR), dan internet of things (IoT) yang banyak diadopsi perusahaan tidak hanya menjadi pendorong utama transformasi digital, tetapi juga menciptakan dampak positif yang berkelanjutan terhadap cara masyarakat bekerja, hidup, terhubung, dan bermain.

Terlepas dari era disrupsi, tahun 2019 dibuka dengan rasa optimisme terhadap prospek transformasi digital di Indonesia yang memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan dukungan instrumen kebijakan pemerintah, Indonesia merupakan salah satu negara yang terus mengadopsi teknologi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pembelanjaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menyumbang produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang terus menigkat, dimulai dari 5.1% pada kuartal I hingga 5,3% pada kuartal II tahun 2018.
Sementara itu, International Data Corporation (IDC) mempredeksi total anggran pembelanjaan teknologi juga akan menyetuh angka US$266 juta pada tahun 2021 dengan pembelanjaan ke layanan komputasi awan, peranti keras, peranti lunak, dan layanan cloud-enabling haris izmee, presiden direktur microsoft indonesia menuturkan “kami melihat semakin banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi untuk menjawab tantangan-tantangan yang hadir di era disrupsi ini. Beberapa industri bahkan tidak hanya terdisrupsi, tetapi juga berevolusi, sehingga adopsi teknologi dan proses digital diperlukan untuk tetap relevan dan kompetitif dengan perkembangan teknologi”.

Dalam merespon tantangan di era baru ini, Satya Nadella, CEO Microsoft, menciptakan terminologi tech intensity yang mendorong akselerasi transformasi digital. Untuk mencapai transformasi digital yang menyeluruh, diperlukan langkah-langkah yang strategis termasuk tata kelola data, perubahan budaya perusahaan, serta pengembangan keterampilan digital tenaga kerja.
Pertama, modernisasi strategi data. Data adalah kunci proses pertumbuhan perusahaan. Pada sejumlah organisasi besar di Asia-pasifik, yang sering menjadi tantangan bukan ketersediaan data, melainkan tenaga yang dubutuhkan untuk mengelola data perusahaan yang bertambah. Industri perbankan misalnya, membutuhkan alat untuk melacak dan menganalisis data acak dari berbagai saluran seperti perangkat, touchpoint terbaru pelanggan, dan arus data pihak ketiga.

Kedua, mempercepat adopsi cloud secara menyeluruh. Dari awal kemunculan platform cloud, banyak CEO yang mempertanyakan risiko keamanan data serta kepatuhan terhadap regulasi. Sejak Microsoft menghadirkan hybird cloud (integrasi public cloud dan on premise) di indonesia – Azure stack, perusahaan kini dapat memilih untuk mengaplikasikan strategi hybird cloud yang memungkinkan pembagian data dan aplikasi di dua domain tersebut. Solusi ini memberikan perusahaan kemampuan untuk mengukur infrastruktur on-premise mereka melalui public cloud secara mulus tanpa harus memiliki akses pusat data kepihak ketiga, serta tetap patuh terhadap regulasi yang berlaku.
Ketiga, pengembanan keterampilan digital tenaga kerja. Para CEO perlu memprioritaskan pengembangan keterampilan tenaga kerja agar terjadi kesinambungan antara kemampuan pekerja dan proses transformasi.

Keempat, menumbuhkan pola pikir digital. Menurut peter ducker, culture eats technology for breakfast. Makna dari istilah ini adalah sebesar apa pun pengaplikasian teknologi tidak akan mampu mentransformasi perusahaan ke arah digital secara menyeluruh apabila tidak dibarengi dengan perubahan budaya; budaya yang menerapkan pola pikir terbuka dan menyukai eksperimen.
Kelima, organisasi digital dengan kepercayaan (trust). Organisasi membutuhkan waktu tahunan untuk membangun kepercayaan, yang ironisnya dapat dihancurkan dalam sekejap mata. Kepercayaan merupakan hal krusial bagi organisasi digital yang tidak hanya rentan terhadap serangan dunia maya, tetapi juga menghadapi tantangan lain seperti regulasi yang terus berubah serta ekspektasi kepatuhan etika dalam transaksi online dan penanganan data konsumen.

Sebagai navigator dalam perusahaan, CEO merupakan penanggung jawab kepercayaan pelanggan dan perlu memastikan bahwa semua unsur kepercayaan pelanggan dan perlu memastikan bahwa semua unsur kepercayaan di antaranya keamanan, privasi, reliabilitas, transparansi, kepatuhan dan etika, semenjak awal telah tertanam pada inisiatif-inisiatif transformasi digital.
Tahun 2019 merupakan tahun transformasi digital dengan memanfaatkan layanan cloud computing, dimana pemimpin perusahaan akan mengambil langkah untuk merespons ekonomi baru: ekonomi digital. Dalam merespons hal tersebut, para CEO perlu mempertimbangkan lima keputusan teknologi tersebut untuk memperkuat strategi digital mereka dan menjadi lebih kompetitif di industri.
[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!